Terimakasih untuk
kebahagiaan yang
pernah kamu kasih yang
membuat aku jatuh
cinta denganmu. Sekuat
apapun aku
menyangkal, dan sesulit
apapun aku akui, tapi
perasaanku gini adanya.
Potongan –
potongan percakapan
dalam Facebook seolah
menegaskan bahwa tak
ada hubungan apa-apa
antara kita. Tak lebih
hanya sekedar teman
sekolah,sahabat . Cukup. Hanya
itu. Tidak lebih. Jujur aku
katakan saat terindah
dalam hidupku adalah
saat aku mulai
menyukaimu.
Tanpa ku duga
hari itu, kau ketahui
semua. Semua seakan
sudah jelas olehmu. Kau
tau semua perasaanku.
Kau tau semua rasa
yang menyesakkan ini.
Dan kau berkata “maaf
aku telah banyak
menyakitimu, semoga
suatu saat nanti kau
menemukan seseorang
yang lebih baik dari aku.”
Hingga tetes air mata
membasahai pipiku.
Beban yang aku pendam
selama dua tahun
seakan mencair
mengiringi permintaan
maafnya.
Aku tidak pernah
menyesal mengenalmu.
Meski kata tak terucap,
cinta tak harus
diucapkan lewat kata,
tapi hati yang bicara.
Andai kau tak pernah
tau perasaanku,
mungkin aku akan
menyesal, tapi pada
akhirnya kau pun tau.
Tanpa ada kata yang
terucap.
Akankah kisahku
akan berakhir seperti
ini? Akankah takdir tak
lagi mempertemukan
kita meski dengan
sosok yang berbeda?
Dapatkah aku menjadi
sosok bukan hanya
sekedar teman tapi
seseorang yang selalu
tulus mendengar keluh
kesahmu? Seseorang
yang kau harapkan
ucapan selamat saat
usiamu bertambah?
Seseorang yang
istimewa dan dapat
menjadi pendampingmu
hingga tua nanti? Hanya
Tuhan yang tau.
Akhirnya aku
paham jika kau memang
bukan yang terbaik
untukku. Tapi aku yakin
dan percaya satu saat
nanti datang seseorang
yang benar-benar tulus
mencintaiku, menerima
aku apa adanya.
Endingnya,
terimakasih kau telah
memberi kesan indah
dalam mozaik puzzel
kehidupanku.
kebahagiaan yang
pernah kamu kasih yang
membuat aku jatuh
cinta denganmu. Sekuat
apapun aku
menyangkal, dan sesulit
apapun aku akui, tapi
perasaanku gini adanya.
Potongan –
potongan percakapan
dalam Facebook seolah
menegaskan bahwa tak
ada hubungan apa-apa
antara kita. Tak lebih
hanya sekedar teman
sekolah,sahabat . Cukup. Hanya
itu. Tidak lebih. Jujur aku
katakan saat terindah
dalam hidupku adalah
saat aku mulai
menyukaimu.
Tanpa ku duga
hari itu, kau ketahui
semua. Semua seakan
sudah jelas olehmu. Kau
tau semua perasaanku.
Kau tau semua rasa
yang menyesakkan ini.
Dan kau berkata “maaf
aku telah banyak
menyakitimu, semoga
suatu saat nanti kau
menemukan seseorang
yang lebih baik dari aku.”
Hingga tetes air mata
membasahai pipiku.
Beban yang aku pendam
selama dua tahun
seakan mencair
mengiringi permintaan
maafnya.
Aku tidak pernah
menyesal mengenalmu.
Meski kata tak terucap,
cinta tak harus
diucapkan lewat kata,
tapi hati yang bicara.
Andai kau tak pernah
tau perasaanku,
mungkin aku akan
menyesal, tapi pada
akhirnya kau pun tau.
Tanpa ada kata yang
terucap.
Akankah kisahku
akan berakhir seperti
ini? Akankah takdir tak
lagi mempertemukan
kita meski dengan
sosok yang berbeda?
Dapatkah aku menjadi
sosok bukan hanya
sekedar teman tapi
seseorang yang selalu
tulus mendengar keluh
kesahmu? Seseorang
yang kau harapkan
ucapan selamat saat
usiamu bertambah?
Seseorang yang
istimewa dan dapat
menjadi pendampingmu
hingga tua nanti? Hanya
Tuhan yang tau.
Akhirnya aku
paham jika kau memang
bukan yang terbaik
untukku. Tapi aku yakin
dan percaya satu saat
nanti datang seseorang
yang benar-benar tulus
mencintaiku, menerima
aku apa adanya.
Endingnya,
terimakasih kau telah
memberi kesan indah
dalam mozaik puzzel
kehidupanku.




